Menjemput Cahaya Fajar Tauhid di Nogosari: Catatan Kajian Fathul Majid Bersama Ustadz Jauhari

Jumat pagi di kawasan Grenjeng, Nogosari, selalu memiliki suasana yang menenangkan. Udara Boyolali yang sejuk di waktu fajar seolah menjadi latar yang sempurna untuk memulai hari dengan menuntut ilmu. Pagi ini Jumat, 10 April 2026, langkah santri tertuju pada deretan pilar kokoh Masjid Al Madinah. Di sana, suasana sudah tampak hidup dengan kehadiran para santri Al Mahir yang bersiap menyerap faedah ilmu dalam kajian rutin kitab legendaris.

Kajian kali ini terasa spesial karena membedah Kitab Fathul Majid, yang merupakan syarh (penjelasan) dari Kitabut Tauhid. Duduk di depan mimbar adalah Ustadz Jauhari, Lc., seorang alumnus Universitas Islam Madinah yang keilmuannya dalam bidang akidah tidak perlu diragukan lagi.

Pesan Tegas di Balik Sebuah Nama

Inti pembahasan ba’da Subuh hingga pukul 05.30 tadi menyentuh hal yang sangat fundamental dalam kehidupan sehari-hari umat Islam, yakni tentang pemberian nama. Ustadz Jauhari menekankan satu poin krusial yang seringkali dianggap sepele namun berdampak besar pada sisi akidah: Larangan memberikan nama “Abdul” dengan tujuan penghambaan kepada selain Allah.

Dalam penjelasannya, beliau menguraikan bahwa secara bahasa, Abdu berarti hamba atau budak. Islam sangat menjaga kemurnian tauhid, sehingga penyandaran kata “hamba” hanya boleh ditujukan kepada Sang Khalik.

“Nama adalah doa, sekaligus identitas penghambaan kita. Menggunakan nama seperti Abdul Nabi, Abdul Ka’bah, atau nama-nama lain yang menyandarkan penghambaan kepada makhluk adalah bentuk kekeliruan yang dapat menodai kemurnian tauhid seorang hamba.”

Beliau menambahkan bahwa Rasulullah SAW sendiri sangat perhatian terhadap perubahan nama-nama yang mengandung unsur kesyirikan atau pemujaan terhadap selain Allah. Memberikan nama “Abdul” kepada selain Allah dianggap sebagai bentuk penduaan dalam sisi loyalitas penghambaan yang seharusnya mutlak milik Allah semata.

Atmosfer Keilmuan di Masjid Al Madinah

Melihat antusiasme para santri Al Mahir dalam menyimak penjelasan Ustadz Jauhari memberikan optimisme tersendiri bagi para santri. Di tengah gempuran tren nama-nama modern yang terkadang kehilangan makna, kembali merujuk pada tuntunan syariat dalam hal penamaan adalah sebuah langkah kembali ke fitrah.

Kajian ditutup tepat pukul 05.30 saat semburat cahaya matahari mulai muncul di ufuk timur Nogosari. Ada rasa syukur yang mendalam bisa memulai hari dengan meluruskan kembali pemahaman tentang tauhid. Karena pada akhirnya, tauhid bukan sekadar teori di atas kertas, melainkan praktik nyata yang dimulai bahkan dari cara kita memanggil diri kita sendiri dan anak keturunan kita.