Dalam kajian kitab Mukhtasar Akhlaq Hamalatil Quran baru-baru ini di Pondok Pesantren Quran dan IT Al Mahir (PPQITA), Ustadz Muhammad Hamid Alwi, Lc menyampaikan pesan mendalam tentang akhlak dan karakter mulia yang wajib dimiliki oleh para pengemban Al-Qur’an, khususnya penghafal Al-Qur’an.
Salah satu poin penting yang beliau angkat adalah: “Seorang penghafal Al-Qur’an hendaknya tidak menyandarkan hajatnya kepada manusia, tetapi ia justru menjadi pribadi yang membantu memenuhi hajat orang lain.”
Ustadz Hamid menjelaskan, ini adalah cerminan akhlak iffah (menjaga kehormatan diri) dan tsiqah billah (percaya sepenuhnya kepada Allah). Seorang hafidz yang hati dan lisannya telah lekat dengan kalam Allah, semestinya terangkat derajatnya di sisi-Nya, bukan merendahkan diri dengan meminta-minta apalagi bergantung pada makhluk.
“Allah telah memuliakan mereka dengan Al-Qur’an,” ujar Ustadz Hamid. “Maka janganlah mereka hinakan diri dengan ketergantungan kepada manusia. Justru, kedudukan mereka yang mulia itu harus dirasakan oleh umat. Ketika umat kesulitan, merekalah yang menjadi penolong, bukan yang merepotkan.”

Pesan ini sangat relevan dengan tujuan pendidikan PPQITA, yaitu mencetak penghafal Qur’an yang mandiri, profesional, dan berkarakter. Bukan berarti menolak bantuan jika memang sangat darurat, tetapi menghindari sikap menjadikan hafalan Qur’an sebagai “kendaraan” untuk meminta-minta atau mencari keuntungan duniawi secara rendah.
Penghafal Al-Qur’an, kata Ustadz Hamid, idealnya menjadi problem solver bagi masyarakat, baik dalam hal agama, akhlak, maupun kebutuhan sosial lainnya. Dengan begitu, ia menjadi teladan, bukan beban.
Mari kita renungkan: Sudahkah kita sebagai insan yang dekat dengan Al-Qur’an lebih banyak memberi daripada meminta? Wallahu a’lam. Semoga kita termasuk golongan yang dihormati karena Al-Qur’an, bukan sebaliknya.

