Semangat spiritualitas pasca-Ramadhan masih terasa kental di lingkungan Pondok Pesantren Qur’an dan Informasi Teknologi (PPQIT) Al-Mahir. Pada Senin malam, 13 April 2026, para santri kembali menggelar agenda rutin Muhadhoroh, sebuah ajang melatih keterampilan orasi sekaligus media dakwah antarsantri. Acara yang berlangsung khidmat ini menonjolkan dua orator muda, Santri Afiq dan Santri Abdullah, yang membawakan pesan mendalam tentang refleksi diri dan interaksi dengan Al-Qur’an.
Afiq: Antara Puasa Syawal dan Pencarian Jati Diri
Tampil sebagai pemateri pertama, Santri Afiq membawakan materi bertajuk “Keutamaan Puasa Syawal dan Urgensi Mengenali Diri.” Di hadapan rekan-rekan santri dan para asatidz, Afiq mengingatkan kembali janji Allah SWT mengenai pahala puasa enam hari di bulan Syawal yang setara dengan berpuasa setahun penuh jika digabungkan dengan puasa Ramadhan.
Namun, Afiq tidak hanya berhenti pada pembahasan fikih. Ia membawa audiens masuk ke ruang refleksi yang lebih personal.
“Puasa Syawal adalah pembuktian istiqamah. Namun, ibadah ini akan lebih bermakna jika kita juga mulai bertanya pada diri sendiri: Siapa kita sebenarnya? Dan untuk apa kita diciptakan?” ujar Afiq dengan nada retoris.


Ia menekankan bahwa banyak pemuda kehilangan arah karena gagal mengenali potensi diri dan tujuan hidup yang hakiki, yakni menghamba kepada Sang Pencipta. Menurutnya, momentum bulan Syawal adalah waktu terbaik untuk melakukan “reset” terhadap visi hidup agar tidak sekadar ikut-ikutan arus zaman.
Abdullah: Menjemput Keberkahan Lewat Tadabbur
Melanjutkan estafet dakwah malam itu, Santri Abdullah naik ke mimbar dengan materi yang menyejukkan: “Tadabbur Al-Qur’an sebagai Kunci Keberkahan.” Abdullah menyoroti fenomena di mana banyak Muslim yang gemar membaca Al-Qur’an, namun lupa untuk merenungi maknanya.
Ia menjelaskan bahwa Al-Qur’an bukan sekadar teks untuk diperlombakan keindahannya, melainkan petunjuk (Hudan) yang harus dibedah dengan hati.
- Pahami Makna: Membaca terjemahan dan tafsir ringkas.
- Hadirkan Hati: Merasakan bahwa setiap ayat sedang berbicara kepada kita.
- Implementasi: Mengubah perilaku berdasarkan pesan ayat tersebut.
“Keberkahan hidup dari Allah tidak turun begitu saja. Ia mengalir lewat interaksi kita yang jujur dengan kalam-Nya. Itulah inti dari Tadabbur,” pungkas Abdullah dengan tegas.
Membangun Generasi Qur’ani yang Cerdas Berbicara
Kegiatan Muhadhoroh di Al-Mahir memang dirancang untuk mencetak santri yang tidak hanya mahir secara hafalan, tetapi juga cakap dalam menyampaikan kebenaran. Sebagaimana visi yang diusung oleh Al Mahir, keseimbangan antara aspek tahfidz dan public speaking menjadi prioritas.
Melalui materi yang dibawakan Afiq dan Abdullah, para santri diajak untuk menyadari bahwa menjadi penghafal Al-Qur’an berarti siap menjadi obor di tengah masyarakat. Acara ditutup dengan doa bersama, membawa harapan agar pesan-pesan yang disampaikan pada 13 April ini menjadi bahan bakar semangat untuk menjalani sisa tahun dengan penuh ketaatan.

